Minggu, 27 Desember 2009

Peti Maut

Bola mata Ema berpijar kagum saat menatap bangunan yang berdiri kokoh di depannya.

"Inilah tempatnya, Ema…!” tunjuk Arman. Sepasang pengantin baru itu kemudian berlari kecil memasuki sebuah rumah besar.

"Kita akan berbulan madu disini," kata Arman seraya membuka pintu.

"Ah, betapa nikmatnya melihat keindahan bulan dari balkon itu," ujar Ema sewaktu matanya mengarah ke pavilyun mungil, yang terletak di samping kiri rumah besar.

"Jangan knawatir, kita akan bersenang-senang menghabiskan hari-hari disini.”

Keduanya lalu sibuk mengurus barang-barang yang dibawanya. Kabut yang sejak tadi turun menghalangi cahaya mentari, membentuk baying-bayang kelabu. Senja yang suram. Malampun tiba seiring dengan munculnya bintang gemintang di atas langit. Ema duduk menghadap ke pavilyun. Sementara itu mengalun irama syandu yang berasal dari gramofon, yang diputar oleh Arman.

"Andai kita bisa hidup seribu tahun, kuingin nikmati sejuta kebahagiaan disini," kata Ema sewaktu Arman muncul dan duduk disampingnya.

“Ya, di tempat ini banyak menyuguhkan keindahan alam. Pada pagi ¬hari kita bisa menyaksikan Sun Rise. Jika sore cuaca cerah, kau pasti akan takjub melihat matahari terbenam di balik bukit itu. Tapi saya¬ngnya, bulan madu kita justru bersamaan dengan musim hujan.”

"Bukankah itu malah menambah kenikmatan bulan madu kita, Arman?" goda Ema, mengundang gemas suaminya. "Aku ingin sekali ke pavilyun itu. Apakah itu juga milik kakekmu?" tanya Ema ingin tahu.

“Ya, termasuk istal yang berada di belakang pavilyun”

“Pasti kakekmu dulunya seorang bangsawan”

"Tidak juga” sahut Arman seraya mengambil rokok dari saku bajunya, lalu di bakar dan dihisapnya dalam-dalam. “Sebetulnya, rumah besar ini kepunyaan orang Belanda. Seorang tuan tanah yang kaya raya. Beliau mempercayakan kepada kakekku untuk merawatnya. Setiap minggu Tuan Hallend beserta keluarganya mengunjungi tempat ini,” papar Arman mengisahkan ceritanya.

“Keluarga itu gemar sekali berkuda di waktu pagi hari. Bahkan kakekku diberinya seekor kuda jantan. Tuan Hallend memang dermawan. Kau ¬lihat benda itu ….” tuding Arman ke sebuah gramofon, yang masih mengalunkan irama sweet memory. “Kenangan-kenangan dari Tuan Hallend.”

Tanpa disadari Ema menguap.

“Hei, kau sudah mengantuk rupanya. Bagaimana kalau kita tidur?” usul Arman disambut menganggukkan kepala Emma. Ia memang telah letih sedari tadi. Rasa penat di tubuhnya membuat Arman cepat tertidur.

Kesunyian malam terasa mencekam tak kala dentang lonceng jam dinding berbunyi. Tepat jam duabelas malam!

Ema terjaga dari tidurnya ketika dirasakan semilir hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Hm, pantas aku lupa menutup jendela. Bergegas Ema menuju jendela yang terbuka lebar-lebar. Pada saat itulah ia melihat seorang gadis kecil berdiri di balkon pavilyun. Sejenak Ema terkesima.

“Kak….Kak…!...tolonng aku, Kak!” sayup-sayup Ema mendengar gadis kecil itu memanggil. Mimpikah aku? berulang kali Ema mengerjapkan matanya. Karena penasaran, Ema keluar.

Serentak hawa dingin membasuh tubuhnya. Kini ia begitu jelas menatap sosok gadis kecil itu, mengenakan gaun putih, dan rambutnya yang ikal itu dihiasi topi berpita warna merah jambu. Terkesan amat anggun dan cantik.

“Siapa kamu?” tanya Ema memberanikan diri. Gadis kecil itu tak menjawab.

Dan secara tiba-tiba saja, seperti ada kekuatan yang menarik dirinya, gadis kecil itu mundur beberapa tapak dengan langkah berat.

“Kak…..” gadis kecil menjerit minta tolong. Kedua tangannya menjulur ke depan. Ema tertegun begitu gadis kecil itu terjembab ke dalam, masuk ke kamar yang gelap.

Setelah itu Ema hanya mendengar daun pintu tertutup dengan suara yang nyaring, dan gadis kecil itupun lenyap di atas balkon pavilyun. Ema tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyaksikan kejadian itu dengan dibebani rasa heran.

"Kau terlambat, Ema!" sembur Arman sewaktu ia menjumpai suaminya di pekarangan.

"Tidurmu nyenyak sekali, hingga lupa menyaksikan sun rise. Oh, indahnya, Ema, kau pasti menyesal.”

Pagi ini cuaca cerah sekali. Ema duduk di bangku taman, menghangatkan tubuhnya dibawah sinar violet.

“Mimpi apa kamu semalam hingga tidurmu pulas sekali," usik Arman.

Mendadak Ema teringat kejadian semalam. Lantas ia pun menurutkan kejadian semalam kepada suaminya.Tentang gadis kecil di balkon pavilyun itu.

Mendengar kisah istrinya, Arman sempat bergidik namun cepat-cepat disembunyikan dalam senyum kecilnya.

“Ah, itu hanya ilusi kamu saja. Jangan kau pikirkan.”

"Tapi, aku benar-benar melihatnya, Arman! Sungguh, aku tidak bermimpi, dan gadis kecil bukanlah bayangan. Dia nyata…..!”.

“Tempat itu kosong sejak puluhan tahun, Ema. Lagi pula, aku tak pernah memberi izin kepada siapapun yang ingin bermalam di tempat ini” Arman mencoba menjelaskan.

“Ayolah….. kita kesini untuk berbulan madu, bukan?”

Ema cemberut, ada sedikit kecewa menggores hatinya. Untunglah Arman segera mengobatinya dengan mengajak istrinya berkuda.

“Kau lupa menceritakan sesuatu, Arman,” ucap Ema setibanya di sebuah setu.

“Tentang apa?”

“Pavilyun itu”

"Sebetulnya aku enggan menceritakan hal ini. Tapi, baiklah. Pavi lyun itu dibangun oleh tuan Hallend untuk putrid kesayangannya, Margaretha namanya. Pada suatu malam, terjadi musibah kebakaran yang melanda pavilyun, kebetulan Marhgatetha sedang bermain di dalamnya. Walaupun kakeku sekuat tenaga menolong, namun Margaretha tak dapat diselamatkan. Anehnya, jasad putri tuan Hallend sampai sekarang ini belum perbah ditemukan, bagai hilang ditelan bumi..."

“Malang sekali nasibnya," desis Ema lirih.

"Musibah tragis itu membuat tuan Hallend amat berduka. Beliau kemudian meminta kakekku untuk memperbaiki pavilyun seperti semula. Sejak itu tuan Hallend jatuh sakit. Dan saat menjelang ajalnya, tuan Van Hallend menyerahkan pavilyun beserta rumah besarnya kepada kakekku”

Selama menyimak cerita suaminya, pikiran Ema melayang-layang. Perasaannya galau. Bayang wajah gadis kecil yang di jumpai di pavilyun itu membuat kian penasaran.

Bulan malam ini hadir dengan sinarnya yang pucat. Kesunyian mencekam menyelimuti rumah besar itu. Ema terjaga sewaktu mendengar dentang lonceng jam dinding. Tepat jam duabelas malam!

Ema bangkit dari ranjang, dibiarkan suaminya tertidur pulas.

"Kak! ... tolonglah aku, Kak!" suara rintihan halus sayup-sayup terdengar mengalun dari luar.

Astaga! tanpa pikir panjang lagi Ema bergegas keluar rumah. Ia berdiri tepat di depan pavilyun.

Terlambat! Ema hanya mendengar suara pintu dibanting dengan kerasnya. Hanya beberapa detik ia sempat meli¬hat lambaian tangan gadis kecil itu. Aku harus bertindak! tentu gadis itu butuh prtolongan.

Ema, dengan segala keberaniannya menuju pavilyun, dan segera masuk begitu disadari pintu pavliyun tak terkunci. Ekor matanya melihat bingkai lukisan besar, seorang gadis kecil terpampang di dinding.

“Kak,...aku ada di dalam sini, kak…. Tolong keluarkan aku, Kak…. Aku takut.... “ suara itu begitu jernih di telinga Ema, membuat ia segera menuruni anak tangga, menuju ruang bawah. Ema berhenti setelah sadar dirinya berada di ruang bawah tanah, semacam bunker.

Tak sengaja kakinya menyentuh sebuah peti yang panjangnya sekitar dua meter. Seperti ada kekuatan lain, tangan Ema bergerak membuka peti.

KRAKK!...peti pun terbuka, seiring dengan bertebaran debu-debu yang melapisi peti itu. Sejurus kemudian, Ema menjerit histeris. Seberkas. sinar putih mendadak hadir, membentuk sosok tubuh.

“Terima kasih,..kakak telah membebaskan aku dari kungkungan peti ini..."

Sinar putih itu kini telah menjelma gadis kecil, yang pernah¬ dilihat Ema di balkon pavilyun. Akan tetapi kesadaran Ema lambat-lambat melemah. Ia lunglai, dan akhirnya roboh di sisi peti itu.

“Syukurlah, kau telah sadar. Aku benar-benar mencemaskanmu, Ema,” Suara yang disayanginya itu membuat Ema mulai siuman.

“Peti itu ……. Aku lihat gadis kecil itu …...."

“Yah, peti maut itu telah mengurung Margaretha dari musibah kebakaran. Beberapa puluh tahun dia tersimpan tanpa ada orang yang tahu. Jadi,...gadis kecil itu adalah putri tuan Hallend?!"

“Benarkah?....Tapi, aku tak melihat dia seperti seorang gadis Belanda."

“Karena ibunya adalah seorang wanita pribumi. Wanita itu tak lain adalah nenekku sendiri. Itu sebabnya, kenapa kakekku memiliki semua peninggalan tuan Hellend" ujar Arman seraya membopong tubuh istrinya ke kamar.

Pagi itu,….. di atas balkon pavilyun banyak dikunjungi orang.

Read more...

Lorem ipsum

Dolor sit amet

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch

zettazone © Layout By Hugo Meira.

TOPO